Hak Akses Verifikasi Data Bantu Proses Bisnis Lebih Cepat 123

By Admin 10 Sep 2019, 09:02:15 WIB #GISA
Hak Akses Verifikasi Data Bantu Proses Bisnis Lebih Cepat 123

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri), Prof. Zudan Arif Fakrulloh tak pernah bosan mengingatkan masyarakat agar jangan sembarang sharing foto data penting lewat aplikasi Whatsapp atau lewat internet.

Zudan kemudian mengajak masyarakat agar memahami ekosistem data kependudukan. Menurut dia, institusi paling kaya data itu adalah Google. Mesin pencarian yang dibangun Larry Page dan Sergey Brin ini sangat kaya data, lantaran semua data terkumpul dan tersimpan di Google.

"Misalnya, ketik 'nomor kartu kredit' di Google, muncul 75.600.000 hasil pencarian dalam waktu 0,50 detik. Bahkan ada tiga digit angka terakhir yang terdapat pada bagian belakang kartu kredit yang disebut Kode CVV/CVC atau Card Verification Value/Card Verification Code. Jadi inilah problem data privacy, isu tentang data pribadi," papar Prof. Zudan saat memberikan uraian soal pemanfaatan data kependudukan sekaligus penandatanganan kerja sama memanfaatan nomor induk kependudukan (NIK) dan KTP elektronik (KTP-el) antara Ditjen Dukcapil dengan PT Solusi Net Internusa, perusahaan penyedia jasa digital signature (Digisign), di Jakarta, Senin (26/8/2019) malam.

Zudan menyatakan mendukung penuh upaya Digisign memverifikasi secara akurat 'who you are'. "Ini penting sekali. Nanti menyusul setelahnya verifikasi 'what you have' dan ikutannya," katanya.

Zudan menyatakan pemberian hak akses untuk verifikasi data akan menentukan masa depan Indonesia agar layanan berbasis elektronik, digital signature bisa membantu proses bisnis dengan cepat.

"Dukcapil pun sudah menggunakan layanan tanda tangan digital (TTD) karena sudah menggunakan layanan Adminduk online. Masyarakat pemohon tak perlu datang ke kantor Dukcapil untuk mengurus dokumen kependudukan. Tapi Dukcapil harus yakin bahwa si pemohon adalah orang yang benar. Kalau hanya menggunakan NIK kami bisa ragu, karena NIK tersebar di mana-mana. Bayangan orang dengan NIK palsu membuat akta kematian, dia bisa dapat mencairkan klaim asuransi," katanya mengingatkan.

Dengan menggunakan TTD, bisa diyakini akurasinya sehingga sudah tak usah lagi menggunakan NIK dan foto wajah. "Apa lagi kalau bisa menggunakan dua elemen data NIK dan TTD. Bisa saling melengkapi, dan saling mengisi agar lembaga layanan publik di Indonesia jauh lebih baik," ujar dia.

Zudan kembali mengingatkan bahwa tantangan akan terus ada. Orang yang tidak suka dengan model kolaborasi ini akan ada saja. Setiap perbuatan baik akan selalu ada perlawanan, sebutnya.

"Oleh karena itu mari kita maju terus, yang penting taati berbagai aturan perundang-undangan dengan baik, etika yang baik melihat aspek kemanfaatannya dan menjaga integritas data. Admin yang dititip username password tolong dijaga jangan sampai salah gunakan wewenangnya sehingga timbul isu lagi di bidang security, privacy dan utility data," kata Zudan menutup perbincangan.

Sumber : http://dukcapil.kemendagri.go.id/berita/baca/193/hak-akses-verifikasi-data-bantu-proses-bisnis-lebih-cepat




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment