Budaya Kerja BISA, Dukcapil Bangun Semangat Kebersamaan
Berita Terkait
- Benang Merah Percepatan Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik0
- Sensus Penduduk 2020 Wujudkan Data Kependudukan Untuk Indonesia yang Lebih Baik0
- Penghargaan Kategori Peningkatan Kualitas Layanan Penerbitan Dokumen Kependudukan0
- Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik Piagam Penghargaan0
- Soal Suket KTP untuk Registrasi CPNS, Mendominasi Pertanyaan di LAPOR BKN0
- Data Kependudukan Makin Akurat, 1.259 Lembaga Teken Kerja Sama Akses Data0
- Seberapa Pentingkah NIK, Data Kependudukan dan KTP Elektronik?0
- Apa Saja Output yang Dihasilkan dari Pelayanan Administrasi Kependudukan oleh Dukcapil?0
- Single Identity Number Dukcapil Mudahkan Proses Bisnis0
- Antusias Warga Desa Riding Panjang Kecamatan Belinyu untuk Tertib Administrasi Kependudukan0
Berita Populer
- Kendala NIK dan KK Saat Sensus Penduduk 2020 Online, Berikut Layanan Call Center Dukcapil
- Klik pesonadukcapil.bangka.go.id Untuk Pelayanan Online
- Seberapa Pentingkah NIK, Data Kependudukan dan KTP Elektronik?
- Apa Saja Output yang Dihasilkan dari Pelayanan Administrasi Kependudukan oleh Dukcapil?
- Cara Pengajuan Online Pesona Dukcapil Bangka
- KTP-el Berlaku Seumur Hidup, Wajib Ganti Bila Datanya Berubah
- PERMENDAGRI NO 9 TAHUN 2016 TENTANG PERCEPATAN PENINGKATAN CAKUPAN KEPEMILIKAN AKTA KELAHIRAN
- Dirjen Teguh: Data Kependudukan Dukcapil Full Support Satu Data Indonesia
- Mendagri Tito Minta ASN Jaga Integritas Kemendagri Sebagai Kementerian Triumvirat
- PERUBAHAN STANDAR PELAYANAN TAHUN 2025

Agar bisa menggerakkan aparaturnya di 514 kabupaten/kota, 34 provinsi serta 7.400 kecamatan, selain menggunakan pendekatan transformasi, orkestrasi dan mobilisasi, Dukcapil harus membangun kebersamaan melalui budaya kerja atau working culture.
"Agar terwujud kekompakan kita membangun tahapan Dukcapil BISA. Ini merupakan satu semangat membangun kebersamaan. BISA adalah singkatan, B: Berkarya, I: Inovasi dan Inisiatif, S: Sabar namun penuh semangat, dan A: Adaptif dan amanah. BISA adalah budaya kerja yang Dukcapil bangun agar memiliki semangat yang sama di seluruh Indonesia," jelas Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh di hadapan Menteri Dalam Negeri Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, serta sekitar 1.500 aparatur Dinas Dukcapil provinsi dan kabupaten/kota di Discovery Hotel Jakarta, Senin (25/11/2019) malam.
Secara berseloroh Zudan mengatakan bahwa aparatur Dukcapil semuanya memiliki pabrik pil sabar. "Walau dibully oleh masyarakat kami tetap bekerja dengan penuh semangat," ujarnya.
Setelah menyamakan budaya kerja, pada Februari 2018 Dukcapil melaunching Gerakan Indonesia Sadar Adminduk (GISA). Tujuannya agar seluruh penduduk Indonesia sadar akan pentingnya dokumen kependudukan.
Kemudian di Februari 2019, dalam Rakornas Dukcapil I tahun ini Dirjen Zudan Arif Fakrulloh melaunching Dukcapil Go Digital sekaligus menguatkan big data kependudukan agar bisa dimanfaatkan oleh seluruh instansi.
"Kemudian yang terakhir malam ini, mohon berkenan Bapak Mendagri untuk mencanangkan Anjungan Dukcapil Mandiri yang ada di hadapan ibu bapak semua," kata Zudan.
Semangatnya adalah transformasi memindahkan sumber daya manusia, perangkat dan aplikasi ke dalam sebuah mesin. "Ini diawali dengan semangat Dukcapil yang tidak lagi meggunakan tanda tangan dan cap basah. Kita lihat ada dua contoh Kartu Keluarga warna biru menggunakan tanda tangan manual dan cap basah serta Kartu Keluarga putih yang menggunakan tanda tangan QR Code," jelas Zudan.
Dengan menggunakan tanda tangan digital (TTD), para kepala Dinas Dukcapil bisa berkantor dari manapun. "Meski sedang mengikuti Rakornas operasional kantor dinas Dukcapil tetap berjalan. Karena masing-masing Kadis Dukcapil membawa gadget kami pun sediakan wifi, semua pekerjaan bisa ditandatangani dari ruangan ini," ujar Zudan di hadapan sekitar 1.500 peserta rakornas.








.jpg)

.jpg)


